Wawancara Khusus dengan K. H. Zuhri Zaini, tentang aksi 411 – 212

Diketik ulang dari wawancara Redaksi Majalah Misi SMA Nurul Jadid
oleh Saudari FITRIYAH HAMIDAH pada Tuesday, 13 December 2016

Sejak lama saya ingin tahu, sikap Nurul Jadid tentang kasus ini. Saya merasa butuh pencerahan ditengah pemberitaan yang semakin kesini, semakin memuakkan. Belum lagi gontok-gontokan yang terjadi di akun-akun media sosial yang menebar benih kebencian satu sama lain. Atas nama membela Islam, dan Misi memenjarakan “Sang Penista Al-Quran”, sekelompok orang melupakan nilai-nilai kemanusiaan, dan ke ta’dziman terhadap Ulama. Misalnya, salah satu akun yang menyebut bahwa fatwah tidak sahnya sholat di jalan raya, oleh Said Aqiel Siradj, (Ketua PBNU) dianggapnya Fatwah Kafir, atau seorang pendemo yang mengolok-olok NU karena tidak ikut aksi bela Islam. Sampai kasus penghinaan terhadap Gus Mus dan Mbah Maimun Zubair.

Dan Alhamdulillah, MISI mengangkat kasus ini dalam wawancara khusus dengan K. H. Zuhri Zaini, Pengasuh PP. Nurul Jadid dalam terbitan terbarunya. Kiai memang bukan Nabi, yang dawuh-nya Maha benar. Tapi yang saya tahu, Guru saya itu selalu hati-hati dalam memandang sebuah persoalan. Seperti makna Surat Al-Maidah, yang menurut beliau, butuh lebih dari 1 pendapat untuk menafsirnya.

Bagaimana menurut Kiai, tentang kontroversi yang ditimbulkkan oleh Gubernur DKI Jakarta?

Kita harus melihat semua masalah dengan pikiran, dan hati yang tenang, karena jika kita berpikir dalam keadaan emosional maka akan timbul penilaian yang tidak objektif. Dalam menyelesaikan masalah tersebut, semua penanganan kita lalui denga proses hukum. Melalui proses hukum, masalah tersebut akan menjadi jelas, apakah memang terjadi apa yang diberitakan kepada umat Islam tentang Ahok yang menistakan Agama Islam, ataukah hanya permainan politik dari para pesaing-pesaingnya untuk menjatuhkan citra Gubenur DKI tersebut? Kita berharap semua pihak (yang melaporkan dan tersangka-red) dapat mengikuti proses hukum seadil-adilnya dan sejujur-jujurnya agar tidak terjadi kesalahpahaman dikalangan Masyarakat.

Menurut Kiai, dimana letak kesalahan Ahok?

Saya sendiri tidak mengetahui secara langsung. Jadi saya tidak dapat menyimpulkan dan tidak dapat menuduh sembarangan, karena itu adalah hak pengadilan untuk mengetahui benar atau tidaknya penistaan agama yang telah dilakukan. Namun Masyarakat yang menganggap hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan mereka dan tidak mereka pahami, lebih cenderung percaya pada sumber dari media. Seharusnya mereka lebih percaya kepada pengadilan yang memang menjadi tempat untuk mencari keadilan dengan transparan atau tidak ada yang ditutup-tutupi.

Apa hukum dalam syariat Islam, tentang orang yang menistakan Agama?

Jangankan dalam syariat Islam, saya kira semua orang yang beragama, dan agamanya dinistakan tentu mereka tidak akan terima dan tentu akan membela mati-matian keyakinanya. Hal ini sangat bersifat universal didalam kalangan Umat beragama. Jadi, jika Islam dihina dihadapan publik, tentu Umat pasti akan marah juga karena hal tersebut mengganggu ketentraman antar umat beragama. Kita jangan malah terpengaruh dengan isu yang beredar, karena hal seperti itu harus melalui proses pengadilan dan jangan sampai kita main hakim sendiri.

Menurut Kiai, tindkan FPI dengan melakukan demo tersebut apakah dapat dibenarkan?

Saya kira, demo atau unjuk rasa adalah aspirasi rakyat untuk menyampaikan keinginannya. Itu semua adalah hak mereka yang telah dilindung Undang-undang (Jika masih dalam batasannya). Dan jangan sampai berlebihan sehingga menimbulkan kerugian Negara dan Masyarakat. Jika hal tersebut sampai terjadi, maka pihak manapun akan menjadi bumerang bagi agama Islam.

Sebagai Santri, bagaimana seharusnya kita bersikap?

Jika hal itu terbukti penistaan Agama, sebagai manusia tentu kita tidak akan terima jika ada hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Tetapi, dalam sikap ketidakterimaan itu kita harus bersikap proporsional agar tidak timbul dampak yang lebih buruk. Indonesia Negara hukum, maka hal itu harus diproses secara hukum.

Sebagai seorang Muslim, bolehkah kita memilih Pemimpin yang berbeda keyakinan dengan kita?

Dalam surat Al-Maidah ayat 51 dijelaskan bahwa Wali atau Pemimin yang kepercayaannnya sama dengan orang yang dipimpin, maka itu lebih baik. Pemimpin yang sama keyakinannya tentu tahu batasam-batasan dalam memberikan peraturan pada rakyatnya. Jika berbeda keyakinan, dikhawatirkan pemimpin itu melewati batas-batas Agama rakyatnya dalam memberikan peraturan. Dalam penafsiran ayat ini, maih banyak pendapat yang harus didalami. Jangan mengambil 1 pendapat saja. Jika ingin memilih Pemimpin yang 1 keyakinan itu boleh. Karena memang hak kita untuk memilih. Dengan catatan harus menggunakan cara yang benar dalam memilih. Baik itu demokratis, maupun konstitusional agar tidak menimbulkan masalah. Namun pendapat kita belum tentu diterima oleh Masyarakat. Bergantung bagaimana kita mempengaruhi Masyarakat yang memiliki pola pikir berbeda-beda agar sejalan dengan kita.

Yang terakhir, apa pesan Kiai kepada kami sebagai seorang Santri?

Pastinya kita harus berpikir jernih dan hati yang tenang. Kita cukup menunggu keputusan dari pihak berwenang dan menerima apa adanya. Namun jika kita menginginkan simpati dan dukungan dari Masyarakat, tentu kita harus berbuat banyak untuk Masyarakat. Jika kita disenangi oleh Masyarakat, pasti kita kan dipercaya oleh mereka. Jadi, jangan minta dukungan jika kita tidak mampu berbuat sesuatu untu masyarakat. Untuk para Santri yang belum terjun ke Masyarakat, lebih utama mencari ilmu pengetahuan dan keterampilan sebanyak-banyaknya, untuk beribadah kepada Allah. Serta mengabdi pada Masyarakat. Dengan demikian, tentulah mereka akan bersimpati dan mendukung kita. []

FYI, Pada 2 Desember lalu, saat aksi lajutan 212, PP. Nurul Jadid melakukan Istighosah bersama, dengan harapan perlindungan pada Ummat Islam, juga harapan tidak adanya kekacauan pada saat aksi yang membawa misi Bela Islam itu.

Dilihat Sebanyak: 104 kali

Comments

comments